MONUMEN ANTROPOSEN



Keterhubungan Manusia dan Alam Sebagai Kunci Menuju Dunia Harmoni dan Berkelanjutan

 

MONUMEN ANTROPOSEN

Dengan didirikannya pusat ekonomi kreatif untuk ekonomi sirkular dengan menyediakan infrastruktur untuk daur ulang dan distribusi sampah serta pelatihan keterampilan daur ulang untuk plastik, kami ingin menyelamatkan lingkungan. Prosedur ini terdiri dari empat sub-proyek:

 

  1. Pembangunan "monumen" (intervensi struktural) yang terbuat dari batu plastik sebagai tengara, bangunan tambahan untuk produksi, pelatihan dan penjualan (ruang pembuat dan pajangan), bangunan pengolahan limbah dan ruang teknis
  2. Pengembangan infrastruktur digital sebagai tempat pertukaran material bekas dan sebagai platform jaringan upcycle ekonomi kreatif
  3. Pendidikan dan pelatihan petugas sampah
  4. Pembuatan label dan jaringan distribusi

 

Latar Belakang

Di zaman Antroposen, tingkat aktivitas manusia melebihi kisaran variabilitas bola yang menstabilkan Holosen: tidak mungkin lagi mengatur suhu dan kadar CO2 di atmosfer menggunakan bola yang saling mengunci dan umpan balik negatif dari sistem bumi ( lihat “Hipotesis Gaia”; lihat Ellis 2020). Di bidang iklim dan, misalnya, pengasaman laut (Indonesia adalah pencemar laut terbesar kedua di dunia), umat manusia semakin mencapai titik kritis.

Sebagai makhluk yang mampu melakukan koordinasi yang kompleks, umat manusia harus bertanggung jawab atas fungsi lingkungan yang sebelumnya mengatur diri sendiri (hidrosfer, biosfer, stratosfer ...) melalui tindakan bersama, terarah, dan sensitif. Hal ini dapat didukung oleh sistem ekonomi yang menghemat sumber daya dengan meningkatkan produk yang telah diproduksi dalam arti ekonomi sirkular. Proses berbasis komunitas semacam itu tidak hanya mencakup peningkatan teknis, tetapi juga berurusan dengan desain produk, sistem pengambilan kembali, dan akhirnya dengan tindakan regulasi politik (lih.Stahel 2019).

Volume sampah plastik global sebesar 242 juta ton pada tahun 2016 (dan terus meningkat) menunjukkan bagaimana manusia menghadapi ekosistem global dengan produk sintetis. Sejak sekitar tahun 1945, plastik sudah bisa dideteksi sebagai penanda stratigrafi, ya, sebagai “indikator geologi utama” Anthropocene di lapisan bumi dan dasar laut. Di Piyungan/Pleret, tempat pembuangan akhir sampah Yogyakarta, sampah plastik ini tampak di permukaan, sebagai luka menganga di kota.

 

Pada saat yang sama, kurangnya infrastruktur untuk pengolahan sampah di tempat pembuangan sampah yang kontras dengan flora alami menjadi jelas dan dilema menjadi terlihat oleh setiap pengunjung. Sejak tahun 1996, sampah dibuang ke TPA seluas 13 hektar di tengah kawasan hutan tropis yang kontras dan dibiarkan begitu saja. Sumur tidak dapat digunakan dalam radius sepuluh kilometer (lihat http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/geo-educasia/arti- cle/view/10195/0).

Limbah-limbah yang masuk sangat tercemar karena penduduk dan truk sampah mencampur bahan organik dan anorganik; sekitar 60% dari sampah harian adalah organik. Sekitar 500 pemulung memilah sisa konsumsi yang mudah dijual (botol PET, styrofoam, gelas plastik, wadah PP dan HDPE) dan membawanya ke tengkulak. Volume sekitar enam ton sampah plastik didaur ulang dan dijual kembali dengan cara ini setiap minggu. Sisa volume harian tetap ada. Di masa pandemi corona, volume kemasan plastik meningkat karena tingginya volume pesanan makanan melalui layanan pesan antar.

Tempat pembuangan sampah akan diperluas enam hektar pada tahun 2025, dan pekerjaan persiapan sudah dimulai. Pemerintah provinsi saat ini sedang mencari perusahaan dan investor yang ingin menetap di sekitar untuk memproses bagian yang lebih besar di masa depan: sekarang ada kesadaran tentang masalah tersebut. Monumen Antroposen bergabung dengan inisiatif ini dengan mendekati tantangan ini dari perspektif holistik.

Proyek ini unik dalam hal kompleksitas dan ukuran. Dua bangunan dari kompleks ini nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan mesin pengolah sebagai ruang produksi. Dan sebuah karya seni akan dirancang di ruang publik pada saat yang bersamaan.

 

Deskripsi Proyek

 

Monumen Antroposen adalah Proyek Seni Budaya yang berpusat pada wawasan lingkungan, keberlanjutan dan ekonomi sirkular. Proyek ini mencoba untuk merespon situasi ekologi, sosial dan ekonomi yang terjadi secara global paska dominasi industri. Dampak industri modern, terutama limbah plastik telah menciptakan berbagai tantangan. Perubahan iklim, kerusakan habitat dan ekosistem alami telah terjadi secara ekstrem. Dengan melibatkan pemikiran dan keterlibatan aktif praktisi dan ahli dari berbagai disiplin yang berbeda seperti ilmuwan, insinyur teknik, desainer, seniman, peneliti, ekonom, praktisi budaya, arkeolog dan masih banyak ahli lainnya mencoba merumuskan sebuah prototipe ekosistem alternatif di era yang tengah bertransformasi dari industri kapitalistik linier dan konsumtif menjadi rantai produksi dan konsumsi yang berkelanjutan serta berwawasan budaya yang kritis dan progresif. 


Kawasan ini nantinya dirancang sebagai sentra kreatif ekonomi sirkular yang dilengkapi dengan infrastruktur untuk upcycling dan distribusi sampah serta pelatihan keterampilan daur ulang plastik untuk pelestarian lingkungan hidup.